Manajemen Kelas

Konsep Dasar Manajemen Kelas

Mengapa perlu mengelola kelas? Mengelola kelas sebagai lingkungan belajar merupakan tanggung jawab dan bentuk kepedulian seorang guru meskipun guru tersebut telah memiliki pengalaman bertahun-tahun (Good & Braphy dalam Michael S. Mills, 2010).

Secara umum, ruang kelas yang fleksibel penting untuk belajar, para ahli mengatakan ada tiga bentuk lingkungan ruang kelas yang terdapat dalam istilah manajemen kelas ( Carol Ann Tomlinson & Marcia B. imbeau, 2010) yakni : disfungsional, memadai, dan teratur.

1. Lingkungan disfungsional , kelas yang disfungsional tentu saja mengalami kekacauan pada saat pembelajaran , bahkan saat guru berjuang dalam mengendalikan agar proses pembelajaran berlangsung dengan baik, namun hanya sedikit terjadi pembelajaran  apalagi pembelajaran yang berkelanjutan.

2. Lingkungan kelas yang memadai, lingkungan kelas yang memadai ini menunjukkan tingkatan keteraturan mendasar atau lebih baik dari yang disfungsional . Namun, dalam hal ini guru tetap berjuang mempertahankannya. Beberapa pembelajaran membutuhkan beberapa waktu lagi sebagai tambahan dalam penuntasannya.

3. Lingkungan kelas yang tertib , dalam lingkungan kelas yang tertib ini dibagi lagi menjadi dua kelas yakni (a) lingkungan teratur dan terbatas, ruang kelas ini merupakan ruang kelas yang diatur dengan ketat yang mana dalam proses pembelajarannya guru mempertahankan struktur tingkat tinggi, menggunakan strategi dalam proses pembelajaran, dan mengelola semua rutinitas kelas dengan ketat.


Dalam proses pembelajaran guru menjadi penentu dalam keberhasilan, meskipun mengelola kelas merupakan hal rumit tetapi hal ini menarik perhatian. Mengapa hal ini disebut sebagai hal rumit? Karena dalam mengelola kelas memerlukan keterampilan, pengalaman, bahkan kepribadian serta sikap dan nilai dari guru. Misalnya dua orang guru yang pandai dan berpengalaman namun memiliki sikap dan kepribadian yang berbeda dalam menyikapi subjek didik maka akan berbeda juga suasana dalam proses pembelajarannya. Disinilah letak seni manajemen kelas dalam pembelajaran ( Udin Cahya Ari Prasetya, 2016)

Guru memainkan berbagai peran dalam kelas namun yang paling penting adalah bagaimana cara mengelola kelas tersebut. Pembelajaran yang efektif tentu tidak dapat terjadi di ruang kelas yang dikelola dengan buruk. Jika siswa memiliki sikap yang tidak sopan, tidak teratur dan juga tidak ada aturan yang jelas dalam mebimbing perilaku maka kekacauan akan terjadi , dalam situasi seperti ini guru dan siswa akan menderita. Guru berjuang untuk terus mengajar sedangkan siswa kemungkinan besar belajar lebih sedikit dari sebelumnya. Namun sebaliknya, jika kelas teratu, dikelola dengan baik dan menyediakan lingkungan dimana pembelajaran dapat berkembang. Tetapi ruang kelas yang baik tidak dapat muncul begitu saja, dibutuhkan upaya dalam hal menciptakannya dan orang yang paling bertanggung jawab atas itu adalah guru ( Robert J. Marzano, Jana S. Marzano, and Debra J. Pickering, 2004).

Kenyataan banyak sekali guru terutama yang baru merasakan perasaan lebih seperti mimpi buruk, salah satu di mana mereka terjebak dalam kekacauan pada hari pertama tanpa harapan atau  jaminan akhir yang bahagia, misalnya ada siswa yang berdiri di atas meja, saling melempar barang, dan saling berkejaran satu sama lain di ruang kelas. Siswa-siswa itu dapat diam dalam waktu lebih dari lima detik sekaligus, nah pada saat itulah guru dapat memulai pelajaran, dan pada saat itu juga separuh waktu mengajar sudah berakhir, hal ini membuat seorang guru frustasi , Jenny Fultan (2018) adalah mengatasi dalam mengelola kelas.

Manajemen kelas terdaftar sebagai rintangan atau tantangan nomor satu yang akan dihadapi oleh guru atau calon-calon guru diluar sana. Dalam hal ini guru perlu menyesuaikan dengan apakah profesi itu sendiri, lingkungan yang baru, atau kembali dari cuti sesaat, mereka umumnya ditemukan manajemen kelas sebagai salah satu keterampilan yang paling sulit untuk dikuasai. Berbagai studi yang dilakukan Jenny Fultan (2018)  menemukan 20-50% dari guru berhenti dalam lima tahun pertama mengajar – seringkali karena berkaitan dengancara mengelola kelas. Beberapa sumber juga menyalahkan lembaga yang bertanggung jawab untuk melatih para guru. Mereka mengatakan bahwa tidak ada mata kuliah mengenai manajemen kelas yang diajarkan di dalamnya. Untuk mengetahui mengapa guru-guru (yang baru) bermasalah dalam mengelola kelas , bukan rahasia lagi jika memulai pekerjaa yang baru apapun itu adalah hal yang menegangkan dan membutuhkan waktu sebagai bentuk penyesuaian yang signifikan. Ada orang baru untuk berinteraksi dengan proses dan prosedur baru untuk dipelajari.

1. Guru baru memasuki lembaga dengan sejumlah aturan, proses, dan prosedur yang signifikan.

2. Buku pegangan yang dibaca dan ditandatangani, formulir untuk diisi dan diserahkan.

3. Ruang kelas dan ornamennya.

4. Banyak pelajaran untuk direncanakan.

5. Peta tempat duduk untuk mengatur.

6. Bahan dan persediaan untuk berkumpul.

7. Banyak hal lain yang direncanakan.

8. Bagaimana seharusnya siswa memasuki ruangan

9. Di mana mereka harus menyimpan barang-barang mereka.

10. Di mana dan bagaimana mereka akan berpaling dalam pekerjaan mereka.

11. Bagaimana mereka akan menerima materi tambahan.

12. Bagaimana mereka akan mengembalikan materi itu.

13. Kapan dan seberapa sering mereka dapat keluar dari kuri mereka.

14. Apa prosesnya untuk mengasuh pensil mereka.

15. Apa prosesnya untuk mendapatkan itu.

16. Apa prosesnya untuk mendapatkan makanan dan minuman.

17. Apa prosesnya pergi ke kamar mandi.

18. Apa prosesnya untuk mengantre dan keluar ruangan.

19. Sistem disiplin yang harus ditentukan sebelumnya , apakah ada hadiah atau konsekuensi?


Jenny Fultan (2018) menyarankan beberapa alasan mengapa seorang guru (apalagi yang baru) bergumul dalam manajemen kelas : 

a. Penyesuaian, guru baru perlu menyesuaikan dengan pekerjaan baru dan pekerjaan yang harus dipertimbangkan, gabungan semua tanggung jawab ini dengan lingkungan kelas yang tidak dapat diprediksi dan segera menjadi sangat menegangkan.

b. Kurangnya pengalaman praktis, pada umumnya guru belum mempunyai kesempatan dalam mempraktekkan cara mengelola dan mengajar sekelompok siswa secara bersamaan.

c. Kurang percaya diri, guru yang baru terkadang masih kurang percaya diri dalam hal mengelola kelas bahkan untuk menanyakan kepada guru-guru yang telah berpengalaman , tapi bisakah sepenuhnya kita untuk menyalahkan guru-guru yang baru dalam setiap situasi, bagaimana mereka tahu dengan apa yang mereka perlukan?

d. Sejumlah ide yang terbatas, para guru (baru) masih membangun atau memikirkan bagaimana cara mereka dalam mengelola ruang kelas nantinya bahkan jika mereka mengumpulkan kiat berguna selama pelatihan di kampus akan berbeda saat berada di lingkungan.

e. Kelembutan yang berlebihan, banyak guru yang percaya dengan kelembutan akan membangun hubungan dengan siswanya menjadi seperti teman mereka. Hal ini dapat membuat mereka ragu untuk menindaklanjuti konsekuensi negatif karena takut dianggap sebagai guru yang "kejam". 


Banyak guru yang meninggalkan tugas disfungsionalnya yang dikarenakan ketidakmampuan dalam mengelola kelas meskipun tetap bertahan sebagai guru (Alben Ambareta, 2006). Penguasaan materi saja tidak cukup bagi seorang guru jika belum bisa mengelola kelas dengan baik dan menciptakan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang menarik perhatian peserta didik. Michael Limin (2009) menyatakan bahwa keberhasilan seorang guru dalam mengelola kelas sebagian besar tergantung pada diri mereka sendiri mampu atau tidaknya untuk menghindari kesalahan besar. Bagi seorang guru hal ini tentunya akan terjadi cukup sering atau berulang kali dan guru nantinya akan hilang kendali terhadap kelasnya dengan cepatnya. Untuk mencaai ruang kelas yang diinginkan oleh seorang guru maka perlu dihindari kesembilan kesalahan ini, 

1. Tidak menegakkan aturan kelas 100% dari sewaktu-waktu. Ini adalah kesalahan terbesar, dan itu adalah masalah umum bagi sebagian guru. Untuk setiap kali guru membiarkan berlalu, guru yang bersangkutan menciptakan lebih banyak kesalahan di masa depan.

2. Mengajar, memohon, memarahi, dan mengingatkan peserta didik jelas tidak jelas tidak efektif daripada membiarkan konsekuensi guru melakukan pekerjaan yang ingin mereka lakukan.

3. Mengambil perilaku peserta didik yang buruk secara pribadi. Seorang guru tidak boleh menyudutkan seorang peserta didik hanya karena perilaku peserta didik tersebut buruk, apalagi sampai balas dendam, membiarkan emosi diri dalam mengelola kelas akan mengaburkan penilaian, membuat kita akan mengalami hal-hal yang akan disesali.

4. Berteriak kepada peserta didik. Mengangkat suara akan menciptakan ketegangan dan merusak hubungan antara guru dan peserta didik. Hal ini juga menunjukkan perilaku yang buruk bagi mereka dan dapat membuat peserta didik salah dalam berperilaku ketika hal-hal yang diinginkan mereka tidak sejalan. Yang paling penting, ketika meninggikan suara bekomunikasilah dengan peserta didik bahwa kita meninggikan suara hanya untuk menjelaskan apa yang ingin kita katakan.

5. Memberitahu rencana menajemen kelas kita alih-alih mengajarkannya dengan jelas melalui pemodelan detail, permainan peran, dan latihan, latihan, latihan. Hal itu tentunya membuat peserta didik jenuh karena terlebih dahulu telah mengetahui hal tersebut.

6. Mahal senyum dan hanya menunjukkan kepada beberapa orang pada bulan pertama, semester, atau bahkan sepanjang tahun sekolah. Kunci yang paling penting adalah kecocokan dalam membangun suatu hubungan dan membuat semuanya menjadi mudah terutama dalam manajemen kelas.

7. Memuji peserta didik dengan alasan untuk mempengaruhi peserta didik lainnya. Ini merupakan metode yang tidak jujur. Hal ini dikatakan tidak jujur karena dapat menimbulkan rasa iri terhadap sesama peserta didik.

8. Memiliki konsekuensi yang lemah. 

9. Berbicara terlalu banyak, dalam memanajemen kelas jika seorang guru terlalu banyak bicara dapat membuat peserta didik jenuh dan ngantuk karena terlalu berpusat pada guru. Selain itu juga, peserta didik juga akan mudah hafal dengan guru tersebut dan malas untuk masuk kelas karena telah mengetahui bahwa guru tersebut dalam mengajar terlalu banyak bicara.


Memanjemen kelas merupakan tugas utama dan hal paling sulit yang diadapi oleh guru terlebih lagi guru baru, mengingat karena tidak ada satu pendekatan manajemen kelas yang paling baik (Aunur Rofik, 2009). Manajemen kelas diperlukan dari hari ke hari karena pola perilaku peserta didik selalu berubah-ubah. Lebih lanjut,Aunur Rofik (2009) mengatakan bahwa kegiatan pokok seorang guru yakni mengajar dan mengelola kelas. Menurut penelitian terbaru di University of Salford bahwa desain ruang kelas yang bagus dapat meningkatkan kinerja siswa hingga 25%. Jadi, penting sekali bagi kita untuk mendesain kelas agar proses dalam manajemen kelas dapat terlaksana dengan baik (Janelle, Cox, 2018). 


Komentar